Hadiah Terindah Untuk Anak Kita

Apakah Anda pernah membaca tulisan prof. Rhenald Kasali yang pernah dimuat di Kompasiana yang berjudul  “Jauhkan Anakmu dari Kemudahan”.  Ya, guru besar Universitas Indonesia ini mengamati fenomena semakin banyak anak muda yang saat dewasanya tidak mahir menghadapi realitas dunia orang dewasa yaitu kesulitan dan rintangan. Kenapa ya bisa begitu?

Menurut beliau, orang tua -di Indonesia khususnya- sering merampas kesempatan anak untuk belajar bertahan dalam kondisi yang terbatas, sulit dan penuh tantangan. Dan lebih banyak lagi yang tanpa sadar merampas kesempatan mereka untuk menghadapi kegagalan. Ada paradigma seperti ini: anak saya tidak boleh merasakan hidup yang sulit atau keras seperti saya dulu. Akibatnya anak-anak dibanjiri dengan beragam fasilitas, kemudahan yang berlebihan serta bantuan yang memudahkan. Bagaimana kita berharap saat dewasa mereka mampu menyelesaikan persoalan secara mandiri jika waktu masih anak-anak bahkan sampai remaja, kita melimpahi mereka dengan banyak kemudahan, tidak berlatih dalam situasi penuh tantangan dan realitas.

Seorang dosen psikologi di Stanford University, Carol Dweck pernah berpesan “hadiah terpenting dan terindah orang tua untuk anak adalah tantangan”. Anak-anak yang terlatih dalam situasi yang terbatas dan penuh tantangan akan menggunakan semua potensi dalam dirinya, memiliki kreasi dari ide atau peluang yang sederhana. Sehingga dia lebih siap menghadapi dunia yang terus berubah, keras dan menuntut kreativitas.

hadiah-terindah-untuk-anak-kita

Lihat contoh anak-anak ini, kami tidak punya mainan jungkat jungkit. Mereka menciptakan mainan jungkat jungkit dengan barang-barang yang sudah ada di sekitar kami. Papan titian yang ditopang beberapa batu bata sisa kami membuat replika tembok cina di term lalu.  Anak-anak bisa lho ternyata bekerjasama, membagi tugas secara mandiri tanpa bantuan kami kaka pendamping untuk mewujudkan jungkat-jungkit imajinasi mereka.

Tips:

  • Ingatkan diri kita bahwa masalah yang dihadapi anak adalah masalah mereka, bukan masalah kita. Kita tidak bisa selamanya menyelesaikan masalah mereka atau selalu berada disamping mereka untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka.
  • Jika kita masih ragu, ingat deh saat mereka dulu berjuang sendirian saat keluar dari perut ibu dan beradaptasi dengan dunia luar yang dingin tak sehangat di rahim. Mereka ternyata kuat dan mampu bertahan.

Tinggalkan komentar